Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2007

Meniti Jalan Tengah

Gambar
Meniti Jalan Tengah Sebuah e-mail saya terima bulan Maret lalu, info tentang retreat lima hari bersama Master Zen Thich Nhat Hanh di Hongkong. Hati saya seketika terangkat, intuisi saya berkata: pergi. Saya pengagum karya-karya beliau, tapi tidak mempelajarinya secara mendalam. Bisikan kedua datang dari guru sekaligus sahabat saya, yang juga berkata: pergi. Bahkan hingga saya menginjakkan kaki di Hongkong pada tanggal 11 Mei lalu, menempuh perjalanan satu jam lebih ke Wu Kai Sha, dan meletakkan koper saya di dalam kamar yang akan dihuni bersama lima orang lain selama lima hari ke depan, saya masih belum tahu pasti apa yang saya cari, dan apa yang akan saya dapat. Tercatat sekitar 400 orang yang menginap di kompleks retreat, 400 orang datang pulang-pergi, plus 60 anggota Sangha yang didatangkan dari Plum Village. Ini memang retreat skala besar. Hampir 900 orang berkumpul di dalam aula setiap harinya. Suasana riuh dan tempo cepat yang membungkus kami seketika bertransformasi seusai Thi...

Pacarku Ada Lima

Gambar
Pacarku Ada Lima Merayap pelan di Jalan Katamso saat jam bubar sekolah merupakan pelatihan observasi yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak memepet jalan aspal, dan manusia… lautan manusia. Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senja. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu, merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terukur dan tertakar akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini men...