Merindu Dunia Mungil
Merindu Dunia Mungil Memasuki bulan kedelapan saya pindah ke Jakarta, untuk pertama kalinya saya melakukan kegiatan ini: jalan sore. Hari yang pas; tidak terik, angin berembus kadang semilir kadang kencang, awan di langit berserak membentuk formasi yang indah di mata. Saya berjalan di setapak khusus pejalan kaki yang disediakan kompleks tempat saya tinggal, yang dibuat sedemikian rupa di tengah taman, pasir, dan gerimbun bambu. Tiupan angin membuat bambu di sekeliling saya bergesek dan menari. Terdengar suara serangga bersahutan, kawanan burung berkicauan, dan tampak seekor kucing menggeliat di atas rumput. Saya memerhatikan kontur tanah di kiri-kanan yang kadang membukit kadang melembah, rumput yang tumbuh pendek-pendek karena rajin dipotong oleh petugas taman kompleks. Dan saya melihat aliran sungai kecil di sebelah kiri, yang ketika saya ikuti ternyata berujung pada sungai yang lebih besar lagi, yang suaranya mampu menahan kaki saya diam berlama-lama di pinggirannya. Lalu saya masuk...