Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

A Night With Vikram

Gambar
A Night With Vikram Minggu lalu (14/10) saya mendapatkan kesempatan langka. Sebuah jamuan makan malam di bilangan Darmawangsa bersama seorang penulis dunia yang sangat sohor: Vikram Seth . Saat saya dan Reza tiba, sudah ada beberapa teman penulis yang berkumpul: Djenar Maesa Ayu, Richard Oh, Nirwan Arsuka, sang tuan rumah Rayya Makarim, dan teman-teman lainnya. Saya kangen mereka. Ada citarasa khusus yang selalu tercicip tiap teman-teman penulis ini berkumpul. Saya tidak bisa mengartikulasikannya. Yang jelas atmosfer ini sangat khas, terasa baik dalam topik obrolan maupun lelucon yang terlontar. Dan saya rindu itu. Vikram datang bersama Janet DeNeefe, pemrakarsa sekaligus direktur dari Ubud Writer’s Festival yang mendatangkan Vikram ke Indonesia untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Goenawan Mohammad pun muncul di pintu sambil melambaikan tangan. Lengkaplah sudah tamu undangan. Makan malam diadakan di halaman belakang. Kombinasi indah antara langit dan siluet pepohonan menaungi kam...

The Age of Ignorance

The Age of Ignorance Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama. Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sada...