Hail, All Ye Writers!
Hail, All Ye Writers! Februari 2001. Percetakan Dian Rakyat. Napas saya tertahan. Mata mengerjap takjub. Benda itu merembeskan hangatnya ke telapak tangan saya. Rasanya bagai menarik keluar seloyang bolu dari oven, mengepul dan harum. Kue Valentine terindah yang pernah saya lihat. Biru, berbinar seperti batu safir, dan ada segaris nama saya tercantum di sana, tercetak dengan warna putih. Pikiran saya seketika bergeliat dan menggali setumpuk kenangan masa kecil, merunut remah-remah roti yang menjadi penunjuk setapak menuju momen Valentine di percetakan besar di Pulogadung itu: Umur 9 tahun, menulis di buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen merk Le Pen bertinta biru, cerita berjudul “Rumahku Indah Sekali”, sedari kecil saya memang tidak peduli dengan tulisan pendek, atau artikel jurnalistik, saya cuma ingin menulis buku… lalu, setumpuk jurnal yang saya tulis sejak kelas 1 SMP dalam beraneka bentuk agenda dan kini saya simpan rapi dalam peti berwarna perak, agar kalau ...