Pelajaran Winnie Sang Penyihir
Pelajaran Winnie Sang Penyihir Sebagaimana ritual kami setiap malam, Keenan minta dibacakan dongeng sebelum tidur. Dan seperti biasanya, saya memberikan kebebasan bagi Keenan untuk memilih buku yang ingin ia baca. Malam itu, ia memilih dongeng serial “Winnie The Witch” —enam buku yang masih licin dan rapi karena belum pernah dibaca. Sebulan yang lalu, bundel dongeng itu dihadiahkan sahabat saya tercinta: Tri (atau ‘Tante Tree’, jika diucapkan oleh Keenan, seperti melafalkan ‘tree’ dalam bahasa Inggris). Tantenya yang satu ini tinggal di Dubai dan pulang ke Indonesia cuma satu-dua kali setahun. Jika suka pada satu buku, Keenan biasanya mengulang-ulang buku yang sama. Butuh waktu panjang untuk akhirnya Keenan melirik materi baru. Saya, yang kebagian tugas membacakan, terpaksa bertahan dengan rasa bosan. Tak jarang saya jadi hafal isi buku-bukunya sampai kata per kata. Jadi, waktu dia memilih “Winnie The Witch” yang sudah sebulan nongkrong di rak, dalam hati saya bersorak-sorai (hore! bac...