Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2008

Dua Pertanyaan Yang Berarti

Dua Pertanyaan Yang Berarti Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua: “Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar & laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua ak...

Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?

Gambar
Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah? By: Chindy Tan ”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi. Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%. Mengapa Jadi Berlebih? Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif dib...

Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!

Gambar
Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie! by: Chindy Tan Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta). Efek...

Satu Halaman - Satu Jam

Satu Halaman – Satu Jam Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir. Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. Headline halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral. Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). A...

Pertempuran Tiga Perut

Gambar
Pertempuran Tiga Perut Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil. Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian? Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaa...

Tarian Paradoks di Pentas Bumi

Gambar
Tarian Paradoks di Pentas Bumi Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa berita sekaligus, yang entah bagaimana persisnya, menciptakan kombinasi unik yang paradoksikal dalam benak saya. Sama-sama di bulan April, diperingati Hari Kesehatan Dunia dan Hari Bumi. Di berbagai belahan dunia, ramai-ramai orang-orang memperingati kedua hari itu dengan beraneka macam cara. Di Jakarta, diselenggarakan Green Fest yang merupakan hajatan edukasi seputar pemanasan global, hasil kolaborasi berbagai perusahaan besar semisal Unilever, Kompas, dsb. Bodyshop dan karyawan-karyawannya menanam seribu pohon. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bahkan mengolaborasikan kedua peringatan tersebut. Bersama Gubernur DKI dan seribu orang lainnya, mereka senam sekaligus menanam pohon di lingkungan Monas. Tema acara ini adalah gerakan hidup sehat untuk menghadapi pemanasan global. Apa hubungannya? Ternyata perubahan iklim dan gelombang panas sebagai efek sampingnya telah meningkatkan penyakit kardiovaskular dan gang...